MAKALAH
PENGARUH
POLA ASUH ANAK BERDASARKAN TINGKAT PENDAPATAN ORANG TUA
DOSEN
PEMBIMBING
Dra.
Uswatun Hasanah,M.Si
DISUSUN
OLEH
ALIFIA
NUR SHEILA
1504617056
UNIVERSITAS
NEGERI JAKARTA
FAKULTAS
TEKNIK
PENDIDIKAN
KESEJAHTERAAN KELUARGA
2017
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesejahteraan
sosial ekonomi ialah suatu kondisi dan tata kehidupan sosial ekonomi yang
sejahtera, yang memungkinkan setiap
orang, kelompok atau masyarakat untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani
yang dikenal sebagai dasar manusia dengan sebaik-baiknya. Masalah-masalah
ekonomi dalam keluarga merupakan masalah yang sering dihadapi. Tanpa disadari
bahwa permasalahan ekonomi dalam keluarga akan berdampak pada anak.
Setiap
orang tua pasti menginginkan anaknya untuk menjadi berhasil. Orang tua selalu
berusaha untuk menjadikan anak-anaknya sukses dalam segala hal. baik dalam hal
pendidikan, ekonomi, dsb. salah satu yang diharapkan orang tua adalah keberhasilan
kepribadian anaknya yang pastinya mempunyai kepribadian yang baik.
Pendidikan
dalam keluarga yang baik dan benar, akan berpengaruh pada perkembangan pribadi
dan lingkungan anak. Kebutuhan yang diberikan melalui pola asuh, akan
memberikan kesempatan pada anak untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah sebagian
dari orang-orang yang berada disekitarnya atau lingkungannya.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana pola asuh dalam keluarga?
2.
Apa saja jenis-jenis pola asuh?
3.
Bagaimana pengertian ekonomi dalam suatu keluarga?
4.
Bagaimana gaya pengasuhan anak berdasarkan tingkat pendapatan rendah?
5.
Bagaimana gaya pengasuhan anak berdasarkan tingkat pendapatan tinggi?
1.3 Tujuan
Penulisan
Tujuan
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.Untuk
menjelaskan apa yang dimaksud pola asuh orang tua
2.Untuk
mendiskripsikan jenis-jenis pola asuh orang tua
3.Untuk
menjelakan maksud ekonomi dalam suatu keluarga
4.Untuk
mendiskripsikan gaya pengasuhan anak berdasarkan tingkat pendapatan orang tua
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pola Asuh
Pola Asuh
adalah pola interaksi antara anak dengan orang tua meliputi pemenuhan kebutuhan
fisik (makan, minum,dll) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih
sayang, perlindungan,dll), serta sosialisasi norma-norma yang berlaku
dimasyarakat agar anak dapat hidup sejalan dengan lingkungannya. Dengan kata
lain, pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam
pendidikan karakter anak.
Menurut
Nurani (2004) pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan
pada anak dan bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini
dapat dirasakan oleh anak, dari segi negatif dan positif. Pola asuh yang benar
bisa ditempuh dengan memberikan perhatian yang penuh serta kasih sayang pada
anak dan memberinya waktu yang cukup untuk menikmati kebersamaan dengan seluruh
anggota keluarga. Sementara pola asuh menurut Baumrind (dalam Papalia,
2008) orang tua tidak boleh menghukum anak, tetapi sebagai gantinya orang tua
harus mengembangkan aturan-aturan bagi anak dan mencurahkan kasih sayang
kepada anak. Orang tua melakukan penyesuaian perilaku mereka terhadap anak,
yang didasarkan atas perkembangan anak karena setiap anak memiliki kebutuhan
dan mempunyai kemampuan yang berbeda-beda.
2.2 Jenis-jenis Pola Asuh
Menurut
Baumrind (dalam Papalia, 2008) terdapat 3 jenis pola asuh, yaitu:
a.
Pola asuh authoritharian
Gaya yang
membatasi, menghukum, memandang pentingnya kontrol dan kepatuhan tanpa syarat.
Orang tua mendesak anak untuk mengikuti arahan dan menghormati pekerjaan dan
upaya mereka. Menerapkan batas dan kendali yang tegas kepada anak dan meminimalisir
perdebatan verbal serta memaksakan aturan secara kaku tanpa menjelaskannya, dan
menunjukkan amarah kepada anak (Santrock, 2003)
b.
Pola asuh authorithative
Pola asuh
authorithative adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan
anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola
asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau
pemikiran-pemikiran. Bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap
yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Memberikan kebebasan kepada anak
untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak
bersifat hangat. Mendorong anak untuk mandiri namun menerapkan batas dan
kendali pada tindakan mereka (Santrock, 2003).
c.
Pola asuh permissive
Gaya
pengasuhan dimana orang tua sangat terlibat dengan anak, namun tidak terlalu
menuntut atau mengontrol. Membiarkan anak melakukan apa yang mereka inginkan.
Anak menerima sedikit bimbingan dari orang tua, sehingga anak sulit dalam
membedakan perilaku yang benar atau tidak. Serta orang tua
menerapkan disiplin yang tidak konsisten sehingga menyebabkan anak berperilaku
agresif. Anak yang memiliki orang tua permissive kesulitan untuk
mengendalikan perilakunya, kesulitan berhubungan dengan teman sebaya, kurang
mandiri dan kurang eksplorasi ( Parke & Gauvain, 2009).
2.3 Pengertian Ekonomi dalam
Keluarga
Pendapatan dalam
satu keluarga akan mempengaruhi aktivitas
keluarga dalam
pemenuhan kebutuhan
keluarga. Keadaan ekonomi keluarga
berperan dalam perkembangan anak
dan menentukan tingkat kesejahteraan keluarga.
Dengan adanya
perekonomian yang
cukup dalam keluarga, lingkungan materi yang dihadap anak
akan lebih luas serta memiliki
kesempatan untuk
mengembangkan macam-macam kecakapan,
(Sajogyo dalam
Paputungan, 2009:30)
2.4
Gaya pengasuhan anak berdasarkan tingkat pendapatan rendah
Pada rentang
skor pengasuhan di tingkat pendapatan rendah adalah 106-135, terdapat 17
orang yang
memiliki kriteria skor
120-133 dengan presentase 65,38% artinya, terdapat 17
orang yang
menerapkan pengasuhan otoritatif sedangkan terdapat
9 orang yang
memiliki kriteria skor pengasuhan
100-119 dengan presentase 34,61% artinya, hanya 9 orang yang
menerapkan pengasuhan otoriter
berdasarkan tingkat pendapatan keluarga.
2.5 Gaya pengasuhan anak beradsarkan
tingkat pendapatan tinggi
Dapat dijelaskan
bahwa skor 120-160 adalah kriteria
pola pengasuhan otoritatif,
80-120 pengasuhan otoriter,
40-80 pengasuhan permissif, dan
skor 0-40 pengasuhan lalai. Pada
rentang skor
pengasuhan di tingkat pendapatan tinggi
adalah 101-135, terdapat
18 orang yang memiliki
kriteria skor 120-133
dengan presentase 69,23% artinya,
terdapat 18 orang yang
menerapkan pengasuhan otoritatif sedangkan terdapat
8 orang yang
memiliki
kriteria skor pengasuhan 100-119
dengan presentase 30,77% artinya, hanya 8 orang yang
menerapkan pengasuhan
otoriter berdasarkan tingkat pendapatan
keluarga.
2.6 Dimensi Pola
Asuh berdasarkan Tingkat Pendapatan Keluarga.
Terdapat tiga
dimensi pendapatan keluarga yang
terdiri dari tingkat
pendapatan
tinggi dan
rendah, dan terdapat tiga dimensi pola asuh yaitu kontrol,
tingkah laku, komunikasi dan kasih
sayang. Dimensi pola asuh
berdasarkan tingkat pendapatan
tinggi, menengah dan rendah
memiliki presentase yang beragam,
dan dimensi tingkah laku adalah dimensi
paling dominan dengan
presentase paling tertinggi yaitu
32,7%.
Dengan demikian, dalam perhitungan
dimensi pola asuh berdasarkan tingkat
pendapatan keluarga. Berdasarkan hasil rata-rata
hitung skor variabel pengasuhan
anak pada dimensi kontrol memiliki
presentase 71,95%, dimensi
tingkah laku memiliki presentase
75,25%, dimensi komunikasi memiliki
presentase 79,35%, dan dimensi
kasih sayang memiliki
persentase sebesar 71,06%. Dimensi
komunikasi dapat terlihat dari
adanya sikap orang tua yang selalu menciptakan
komunikasi verbal dengan
anak, serta keterlibatan oraang tua terhadap perasaan dan pendapat anak.
Berdasarkan
perhitungan presentase pengasuhan anak
berdasarkan tingkat pendapatan
keluarga, dapat dilihat bahwa, pada tingkat
pendapatan tinggi, pengasuhan
lalai memiliki presentase dominan
yaitu 26,9%. Sedangkan presentase
pada tingkat pendapatan rendah,
memiliki presentase yang dominan
pada pengasuhan otoritatif dengan
nilai presentase 27,6% hingga
27,9%.
Analisis statistika
untuk membuktikan masing-masing kelompok
tidak terdapat perbedaan, maka
digunakan rumus Uji-T, dengan
syarat t hitung ≤
ttabel. Hasil perhitungan yaitu pada tingkat pendapatan
tinggi-menengah thitung ≤ t,tabel
(-0,466 ≤ 2,005) tingkat pendapatan tinggi-rendah (-0,216 ≤ 2,009) dan pada
tingkat pendapatan menengah-rendah (0,274 ≤ 2,005). Hasilnya menunjukan
bahwa tidak terdapat perbedaan pengasuhan
anak berdasarkan tingkat pendapatan keluarga.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Pola asuh orang tua merupakan pola perilaku yang
diterapkan orang tua pada anak-anaknya yang bersifat konsisten dari waktu
kewaktu. Pola asuh orang tua berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak.
Keluarga merupakan tempat sosialisasi pertama bagi anak. Dari hasil
penelitian dapat disimpulkan
bahwa tidak terdapat perbedaan pola pengasuhan anak balita berdasarkan
tingkat pendapatan keluarga. Hasil
perhitungan presentase pola
pengasuhan anak balita berdasarkan
tingkat pendapatan tinggi,
dan pendapatan rendah sebagian
besar menerapkan pola pengasuhan yang
sama yaitu otoritatif.
3.2
Saran
Para orang tua dapat menyadarkan tingkat ekonomi atau
pendapatan orang tua tidak terlalu berpengaruh terhadap pola asuh anak. Karena
dari hasil perhintungan presentase tidak ada bedanya antara pendapatan orang
tua tinggi dan rendah. Jadi jangan menjadikan anak sebagai objek apabila orang
tua sedang mengalami krisis ekonomi.
DAFTAR
PUSTAKA
Fitri Kamaliah, Melly
Prabawati dan Rusilanti, 2014. Perbedaan
Pola Pengasuhan Anak
Berdasarkan Tingkat Pendapatan Keluarga,
Jakarta
