Kamis, 11 Januari 2018

Pengaruh Pola Asuh Anak Berdasarkan Tingkat Pendapatan Orang Tua

MAKALAH
PENGARUH POLA ASUH ANAK BERDASARKAN TINGKAT PENDAPATAN ORANG TUA




DOSEN PEMBIMBING

Dra. Uswatun Hasanah,M.Si

DISUSUN OLEH
ALIFIA NUR SHEILA
1504617056

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
FAKULTAS TEKNIK
PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA
2017








BAB I
PENDAHULUAN

      1.1 Latar Belakang
     
Kesejahteraan sosial ekonomi ialah suatu kondisi dan tata kehidupan sosial ekonomi yang sejahtera,  yang memungkinkan setiap orang, kelompok atau masyarakat untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani yang dikenal sebagai dasar manusia dengan sebaik-baiknya. Masalah-masalah ekonomi dalam keluarga merupakan masalah yang sering dihadapi. Tanpa disadari bahwa permasalahan ekonomi dalam keluarga akan berdampak pada anak.

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya untuk menjadi berhasil. Orang tua selalu berusaha untuk menjadikan anak-anaknya sukses dalam segala hal. baik dalam hal pendidikan, ekonomi, dsb. salah satu yang diharapkan orang tua adalah keberhasilan kepribadian anaknya yang pastinya mempunyai kepribadian yang baik.

Pendidikan dalam keluarga yang baik dan benar, akan berpengaruh pada perkembangan pribadi dan lingkungan anak. Kebutuhan yang diberikan melalui pola asuh, akan memberikan kesempatan pada anak untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah sebagian dari orang-orang yang berada disekitarnya atau lingkungannya.

      1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana pola asuh dalam keluarga?
2. Apa saja jenis-jenis pola asuh?
3. Bagaimana pengertian ekonomi dalam suatu keluarga?
4. Bagaimana gaya pengasuhan anak berdasarkan tingkat pendapatan rendah?
5. Bagaimana gaya pengasuhan anak berdasarkan tingkat pendapatan tinggi?

1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.Untuk menjelaskan apa yang dimaksud pola asuh orang tua
2.Untuk mendiskripsikan jenis-jenis pola asuh orang tua
3.Untuk menjelakan maksud ekonomi dalam suatu keluarga
4.Untuk mendiskripsikan gaya pengasuhan anak berdasarkan tingkat pendapatan   orang tua



BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pola Asuh
Pola Asuh adalah pola interaksi antara anak dengan orang tua meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (makan, minum,dll) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayang, perlindungan,dll), serta sosialisasi norma-norma yang berlaku dimasyarakat agar anak dapat hidup sejalan dengan lingkungannya. Dengan kata lain, pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam pendidikan karakter anak.

Menurut Nurani (2004) pola asuh  orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negatif dan positif. Pola asuh yang benar bisa ditempuh dengan memberikan perhatian yang penuh serta kasih sayang pada anak dan memberinya waktu yang cukup untuk menikmati kebersamaan dengan seluruh anggota keluarga. Sementara pola asuh menurut Baumrind  (dalam Papalia, 2008) orang tua tidak boleh menghukum anak, tetapi sebagai gantinya orang tua  harus mengembangkan aturan-aturan bagi anak dan mencurahkan kasih sayang kepada anak. Orang tua melakukan penyesuaian perilaku mereka terhadap anak, yang didasarkan atas perkembangan anak karena setiap anak memiliki kebutuhan dan mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. 

            2.2 Jenis-jenis Pola Asuh
Menurut Baumrind (dalam Papalia, 2008)  terdapat 3 jenis pola asuh, yaitu: 
a.  Pola asuh authoritharian 
Gaya yang membatasi, menghukum, memandang pentingnya kontrol dan kepatuhan tanpa syarat. Orang tua mendesak anak untuk mengikuti arahan dan menghormati pekerjaan dan upaya mereka. Menerapkan batas dan kendali yang tegas kepada anak dan meminimalisir perdebatan verbal serta memaksakan aturan secara kaku tanpa menjelaskannya, dan menunjukkan amarah kepada anak (Santrock, 2003)




b.  Pola asuh authorithative 
Pola asuh  authorithative  adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. Mendorong anak untuk mandiri namun menerapkan batas dan kendali pada tindakan mereka (Santrock, 2003).

c.  Pola asuh permissive 
Gaya pengasuhan dimana orang tua sangat terlibat dengan anak, namun tidak terlalu menuntut atau mengontrol. Membiarkan anak melakukan apa yang mereka inginkan. Anak menerima sedikit bimbingan dari orang tua, sehingga anak sulit dalam membedakan perilaku  yang benar  atau tidak. Serta orang tua menerapkan disiplin yang tidak konsisten sehingga menyebabkan anak berperilaku agresif. Anak yang memiliki orang tua  permissive  kesulitan untuk mengendalikan perilakunya, kesulitan berhubungan dengan teman sebaya, kurang mandiri dan kurang eksplorasi ( Parke & Gauvain, 2009).   

            2.3 Pengertian Ekonomi dalam Keluarga
Pendapatan  dalam  satu  keluarga  akan mempengaruhi  aktivitas  keluarga  dalam
pemenuhan  kebutuhan  keluarga.  Keadaan ekonomi  keluarga  berperan  dalam perkembangan  anak  dan  menentukan  tingkat kesejahteraan  keluarga.  Dengan  adanya
perekonomian  yang  cukup  dalam  keluarga, lingkungan materi yang dihadap anak akan lebih luas  serta  memiliki  kesempatan  untuk mengembangkan  macam-macam  kecakapan,
(Sajogyo  dalam  Paputungan,  2009:30)

            2.4  Gaya pengasuhan anak berdasarkan tingkat pendapatan rendah
Pada rentang skor pengasuhan di tingkat pendapatan rendah adalah 106-135, terdapat 17
orang  yang  memiliki  kriteria  skor  120-133 dengan presentase 65,38% artinya, terdapat 17
orang  yang  menerapkan  pengasuhan  otoritatif sedangkan  terdapat  9  orang  yang  memiliki kriteria  skor  pengasuhan  100-119  dengan  presentase 34,61% artinya, hanya 9 orang yang menerapkan  pengasuhan  otoriter  berdasarkan tingkat pendapatan keluarga.

            2.5 Gaya pengasuhan anak beradsarkan tingkat pendapatan tinggi
Dapat  dijelaskan  bahwa  skor  120-160 adalah  kriteria  pola  pengasuhan  otoritatif,  80-120  pengasuhan  otoriter,  40-80  pengasuhan permissif, dan skor 0-40 pengasuhan lalai. Pada
rentang skor pengasuhan di tingkat pendapatan tinggi  adalah  101-135,  terdapat  18  orang  yang memiliki  kriteria  skor  120-133  dengan presentase  69,23%  artinya,  terdapat  18  orang yang  menerapkan  pengasuhan  otoritatif sedangkan  terdapat  8  orang  yang  memiliki
kriteria  skor  pengasuhan  100-119  dengan presentase 30,77% artinya, hanya 8 orang yang
menerapkan  pengasuhan  otoriter  berdasarkan tingkat  pendapatan  keluarga.

            2.6 Dimensi  Pola  Asuh  berdasarkan  Tingkat Pendapatan Keluarga.
Terdapat  tiga  dimensi  pendapatan keluarga  yang  terdiri  dari  tingkat  pendapatan
tinggi dan rendah, dan terdapat tiga dimensi  pola  asuh  yaitu  kontrol,  tingkah  laku, komunikasi  dan  kasih  sayang.  Dimensi  pola asuh  berdasarkan  tingkat  pendapatan  tinggi, menengah  dan  rendah  memiliki  presentase yang beragam, dan dimensi tingkah laku adalah dimensi  paling  dominan  dengan  presentase paling  tertinggi  yaitu  32,7%. 

Dengan  demikian, dalam  perhitungan  dimensi  pola  asuh berdasarkan  tingkat  pendapatan keluarga. Berdasarkan  hasil  rata-rata  hitung  skor variabel pengasuhan anak pada dimensi kontrol memiliki  presentase  71,95%,  dimensi  tingkah laku  memiliki  presentase  75,25%,  dimensi komunikasi  memiliki  presentase  79,35%,  dan dimensi  kasih  sayang  memiliki  persentase sebesar  71,06%.  Dimensi  komunikasi  dapat terlihat dari adanya sikap orang tua yang selalu menciptakan  komunikasi  verbal  dengan  anak, serta keterlibatan oraang tua terhadap perasaan dan pendapat anak.

 Berdasarkan  perhitungan  presentase pengasuhan  anak  berdasarkan  tingkat pendapatan keluarga, dapat dilihat bahwa, pada tingkat  pendapatan  tinggi,  pengasuhan  lalai memiliki  presentase  dominan  yaitu  26,9%. Sedangkan presentase pada tingkat pendapatan rendah,  memiliki  presentase yang  dominan  pada pengasuhan  otoritatif  dengan  nilai  presentase 27,6% hingga 27,9%.

Analisis  statistika  untuk  membuktikan masing-masing  kelompok  tidak  terdapat perbedaan,  maka  digunakan  rumus  Uji-T, dengan  syarat  t hitung    ttabel.  Hasil  perhitungan yaitu pada tingkat pendapatan tinggi-menengah thitung  ≤ t,tabel (-0,466 ≤ 2,005) tingkat pendapatan tinggi-rendah (-0,216 ≤ 2,009) dan pada tingkat pendapatan menengah-rendah (0,274 ≤ 2,005). Hasilnya  menunjukan  bahwa  tidak  terdapat perbedaan  pengasuhan  anak berdasarkan tingkat pendapatan keluarga.


BAB III
PENUTUP

            3.1 Kesimpulan
Pola asuh orang tua merupakan pola perilaku yang diterapkan orang tua pada anak-anaknya yang bersifat konsisten dari waktu kewaktu. Pola asuh orang tua berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak. Keluarga merupakan tempat sosialisasi pertama bagi anak. Dari  hasil  penelitian  dapat  disimpulkan  bahwa tidak terdapat perbedaan pola pengasuhan anak balita berdasarkan tingkat pendapatan keluarga. Hasil  perhitungan  presentase  pola  pengasuhan anak  balita  berdasarkan  tingkat  pendapatan tinggi, dan  pendapatan rendah  sebagian  besar  menerapkan  pola pengasuhan  yang  sama  yaitu  otoritatif.
            3.2 Saran
Para orang tua dapat menyadarkan tingkat ekonomi atau pendapatan orang tua tidak terlalu berpengaruh terhadap pola asuh anak. Karena dari hasil perhintungan presentase tidak ada bedanya antara pendapatan orang tua tinggi dan rendah. Jadi jangan menjadikan anak sebagai objek apabila orang tua sedang mengalami krisis ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

Fitri Kamaliah, Melly Prabawati dan Rusilanti,  2014. Perbedaan Pola Pengasuhan Anak  

 Berdasarkan Tingkat Pendapatan Keluarga, Jakarta

Minggu, 20 Agustus 2017

Sosok Ibu Fatmawati

Sosok Ibu Fatmawati membuat saya mengagumi beliau karena dedikasinya dan kisah perjuangan saat-saat kemerdekaan 1945. Berikut beberapa penggalan tindakan semasa hidup beliau yang bisa saya ambil hikmahnya dan bisa saya realisasikan dalam hidup saya saat ini.


Pada saat detik-detik sebelum proklamasi Ibu Fatmawati mecoba menjahit bendera merah dan putih menjadi satu agar bisa dikibarkan saat kemerdekaan Indonesia. Dan itu menjadi pelajaran bagi saya agar saya bisa memanfaatkan diri saya untuk membantu sekitar diwaktu penting seperti itu dan berinisiatif melakukan hal yang berguna


Hal berikutnya yang membuat saya mengagumi beliau adalah saat beliau setia menemani Bapak Ir.Soekarno dimanapun dan kapanpun. Itu membuat saya terinspirasi untuk selalu bisa mendampingi orang yang kita kasihi walau bagaimanapun keadaannya.

Itulah beberapa penggalan kisah beliau yang bisa saya realisasikan dikehidupan saya di zaman seperti sekarang ini. Dan sifat-sifat perjuangan harus dilestarikan hingga akhir hayat.